PINTER HUKUM
#1 Platform for Legal Education and Consulting • Penyedia Layanan Jasa Hukum Terlengkap dan Terpercaya di Indonesia
Berita  

Dambus: Mengenal Lebih Dekat Konservasi Alat Musik Kesenian Melayu Bangka Belitung (Studi Kasus Official Cak Macak Ethnic Ensembel)

Dambus: Get to Know More Closely the Conservation of Bangka Belitung Malay Arts Musical Instruments (Case Study of the Official Cak Macak Ethnic Ensembel)

Avatar of Pinter Hukum
Dambus

Abstrak

Dambus merupakan salah satu bentuk kesenian unik khas masyarakat adat Bangka Belitung. Unik karena Dambus mencakup makna yang sangat kompleks yaitu suatu bentuk kesenian, nyanyian dan tarian, serta nama suatu alat musik. Dambus dikenal sebagai salah satu alat musik tradisional untuk sarana hiburan atau menghilangkan kepenatan para pendahulu ketika berhenti bertani atau berume. Seiring berkembangnya zaman menjadikan Dambus ini sangat minim untuk dijumpai keberadaannya, terkhusus Kepulauan Bangka Belitung. Namun, Cak Macak Ethnic Ensembel salah satu official musik Dambus Bangka Belitung yang hingga sekarang masih menggulati alat musik tradisional ini. Melihat hal tersebut, penulis merumuskan masalah pada penelitian terkait apa yang menjadi alasan Official Cak Macak Ethnic Ensembel masih mempertahankan konservasi alat musik kesenian Dambus, disamping banyaknya alat-alat musik modern yang mengiringi perkembangan seni musik dunia. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui secara mendasar hal apa yang membuat Official Cak Macak Ethnic Ensembel mempertahankan alat musik tradisional Dambus, dan diharapkan juga dapat memberi wawasan pengetahuan kepada masyarakat luas terkait alat musik tradisional ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif dengan proses pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil analisis penelitian menyatakan bahwa Official Cak Macak Ethnic Ansambel menjadi penggerak untuk mempertahankan konservasi alat musik tradisional Dambus ini. Prinsip yang mereka pegang dengan erat menjadi dasar konservasi tersebut. Cak Macak Ethnic Ensembel mengemas musiknya agar menarik dan dapat dikonsumsi khalayak dengan mengkombinasikan antara musik tradisional dan musik modern. Artinya tetap mengikuti perkembangan musik dunia tanpa menghilangkan originalitas dari musik tradisional itu sendiri.

Kata Kunci: Dambus, Cak Macak Ethnic Ensembel, Konservasi

Pendahuluan

Dambus merupakan salah satu bentuk kesenian unik khas masyarakat adat Bangka Belitung. Dambus adalah salah satu jenis alat musik digunakan dalam tarian dan lagu serta dinyanyikan oleh para pendahulu ketika mencapai disuatu desa-desa terpencil. Dahulu, Dambus juga dijadikan sebagai instrumen pengiring upacara pernikahan dan khitanan masyarakat Bangka Belitung.

Selain iu, Dambus juga memiliki fungsi lain yakni sebagai media untuk hiburan atau menghilangkan kepenatan para pendahulu ketika berhenti bertani atau berume. Seni Dambus berkembang di wilayah Bangka Belitung pada mulanya merupakan kesenian yang berfungsi sebagai alat komunikasi penyebaran agama Islam dan sebagai musik tari dalam upacara adat wilayah sekitarnya.

Tarian ini berbentuk tari morball/campak, tari caddis/kedidi dan tarian lainnya. Alat musik yang berhubungan dengan tarian tersebut adalah keprak, rebana atau marawas, gendang, tawak-tawak dan gong.

Dambus Kepulauan Bangka Belitung sebenarnya mirip dengan Gambus yang banyak dijumpai di luar. Yang menjadi pembeda antara Dambus dan Gambus adalah dari segi ukurannya.

Baca juga: Rusaknya Laut Bangka Akibat Penambangan

Gambus memliki ukuran yang lebih besar dibadingkan dengan Dambus dan memiliki ciri khas tersendiri. Ciri khas tersebut bisa dilihat pada bagian kepala atau tanduknya yang mirip rusa (cervus equimus).

Diceritakan bahwa kepala hewan ini tidak hanya digunakan sebagai ciri khas alat musik Dambus saja, tetapi menjadi hiasan (pajangan) rumah bagi masyarakat Bangka Belitung, dan hewan ini merupakan hewan yang unik serta penting bagi masyarakat.

Selain sebagai hiasan rumah, hewan tersebut juga dijadikan sebagai salah satu makanan khas dalam adat atau upacara nganggung masyarakat Bangka Belitung. Oleh karena itu kemudian Fauna Rusa (cervus equimus) disimbolkan kedalam bentuk ukiran alat musik tradisional Dambus.

Yang menjadi permasalahannya adalah sangat sulit untuk mengembangkan alat musik tradisional ini karena kurangnya sumber daya masyarakat khususnya generasi muda. Generasi muda lebih tertarik mempelajari alat musik modern, drum, keyboard, gitar dan lainnya.

Seperti yang kita tahu bahwa saat ini pemain dan seniman tradisional Dambus belum banyak jumlahnya. Selain itu, hanya sebagian dari sekian banyaknya penduduk Bangka Belitung yang masih menyimpan alat musik tradisional Dambus dan masih membuatnya. Sebagai alat musik tradisional yang memiliki nilai luhur dalam kehidupan, alat musik Dambus sangat penting untuk dijaga.

Dambus Bangka Belitung merupakan alat musik tradisional yang sebelumnya sudah ada dan mengalami beberapa kali kelainan bentuk pada beberapa bagian seperti kepala, bentuk, ukuran, jumlah senar dan ujung instrumen Dambus itu sendiri.

Tapi lagi-lagi tidak banyak penduduk Bangka Belitung yang mengetahui sejarah dan perkembangan alat musik ini. Memasuki perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, harusnya penduduk Bangka Belitung mampu mengatasi masalah ini dengan memanfaatkan platform media, baik dalam bentuk media digital maupun media konvensional seperti film dokumenter, poster dan lainnya.

Sangat berharap jika tidak bisa menjadi pemain dan seniman alat musik tradisional Dambus, setidaknya ikut serta dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang sejarah dan perkembangan alat musik tradisional Dambus melalui media.

Namun, disamping permasalahan tersebut Official Cak Macak Ethnic Ensembel Bangka Belitung hadir untuk mempertahankan konservasi alat musik kesenian tradisional berjenis Dambus ini. Cak Macak Ethnic Ensembel merupakan salah satu dari grup musik kontemporer yang dimiliki Bangka Belitung. Bagaimana kemudian mereka mengemas alat musik tradisional disamping banyaknya alat-alat musik modern yang hadir di tengah masyarakat.

Penulis melakukan pengkajian terhadap Dambus Group Official Cak Macak Ethnic Ensembel untuk mengetahui alasan dibalik mempertahankan konservasi alat musik kesenian melayu Bangka Belitung. Dalam proses pengumpulan data, penulis menentukan informan yang mengetahui secara mendalam terkait kesenian Dambus Cak Macak Ethnic Ensembel.

Penulis sebagai penelaah awal melakukan perumusan masalah dengan fokus untuk mengetahui apa alasan Cak Macak Ethnic Ensembel mempertahankan konservasi alat musik kesenian Dambus, disamping banyaknya alat-alat musik modern yang mengiringi perkembangan seni musik dunia.

Melalui penulisan artikel ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat secara akademik bagi pembaca yang ingin mengetahui secara lebih jelas terkait alat musik Dambus, juga memberikan manfaat secara praktis untuk menambah pemahaman serta pengetahuan pembaca untuk mengetahui konservasi alat musik kesenian Dambus sebagai alat musik tradisional kesenian melayu Bangka Belitung.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif. Menurut Kriyantono (2020, p. 51), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada penggalian kedalaman daripada keluasan data. Denzin & Lincoln dalam Anggito & Setiawan (2018, p. 7) memberikan pemahaman bahwa penelitian kualitatif menafsirkan fenomena menggunakan latar belakang yang alamiah.

Sedangkan Erickson dalam Anggito & Setiawan (2018, p. 7) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mencari gambaran naratif dari kegiatan dan dampak dari tindakan yang dilakukan. Melihat definisi dan pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengamati suatu kondisi secara mendalam dan bertujuan untuk menemukan makna di balik sesuatu yang terjadi secara alamiah.

Deskriptif kualitatif adalah reka bentuk yang mendeksripsikan masukan secara sistematis, faktual, dan akurat pakai bertenggang menambang ketajaman atau pelajaran lebih mendalam (Kriyantono, 2020, p. 62). Deskriptif ini diartikan dengan pengumpulan data yang mampu menggambarkan suatu situasi dan kondisi.

Dengan deskriptif, penelitian ini mencoba menggambarkan secara mendalam tujuan dan alasan mempertahankan konservasi Dambus sebagai alat musik kesenian melayu Bangka Belitung yang dilakukan oleh Cak Macak Ethnic Ensembel.

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Yin (2014, p. 21) memberikan batasan untuk metode studi kasus, bahwa metode ini digunakan sebagai riset yang menyelidiki fenomena nyata. Metode ini berlaku jika pertanyaan apa (what) berfokus pada alasan mempertahankan konservasi alat musik kesenian melayu Bangka Belitung. Kriyantono (2020, p. 235) juga menegaskan bahwa studi kasus digunakan untuk meriset berbagai variabel/aspek yang menyeluruh karena studi kasus bersifat multidimensional.

Pengumpulan data yang dilakukan penulis yaitu dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi yang dilakukan peneliti bersifat observasi nonpartisipasi yang mana peneliti hanya berperan sebagai pengamat yang turun langsung ke lapangan tanpa ikut menjadi bagian pada objek yang ingin diamati. Peneliti juga melakukan proses wawancara kepada Kevindra Ramadani selaku ketua Dambus Group Cak Macak Ethnic Ensembel Bangka Belitung. Kemudian pengumpulan data yang peneliti lakukan dengan melakukan dokumentasi.

Baca juga: Program SDG’S: Dampak dan Solusi Terhadap Penambangan Timah Inkonvensional di Desa Pedindang, Bangka Tengah

Menurut Suharsini Arikunto, metode dokumentasi adalah cara mencari informasi yang berkaitan dengan pertanyaan berupa catatan, buku, laporan, surat kabar, tulisan, jurnal, risalah rapat, agenda dan foto kegiatan, yang melengkapi informasi dari wawancara dan observasi.

Dalam penelitian ini penulis memperoleh informasi dari catatan, transkip dan media siber terkait Dambus sebagai alat musik tradisional Bangka Belitung. Setelah mengumpulkan data, penulis melakukan tahap analisis untuk mencari jawaban atas rumusan masalah.

Hasil dan Pembahasan

Dambus adalah instrument musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik Dambus tradisional sendiri berasal dari luar daerah Bangka Belitung yang dipengaruhi oleh alat musik Gambus dari Timur Tengah. Namun, keduanya dapat dibedakan berdasarkan jenis musik yang dimainkan.

Musik tradisional Dambus biasanya menyajikan lagu-lagu melayu daerah Bangka Belitung, sedangkan Gambus lebih menyajikan musik-musik Arab atau Timur Tengah. Kedua instrumen ini memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Tidak ada yang tahu kapan alat musik tradisional Dambus pertama kali tiba di Bangka Belitung.

A. Hamid Saleh atau biasa disebut Cak Mid, yang mengatakan bahwa alat musik tradisional Dambus merupakan alat musik warisan nenek moyang masyarakat Provinsi Bangka Belitung. Alat musik tradisional Dambus tampil dengan diiringi tari dincak Dambus dan bernyanyi di pesta pernikahan atau acara hari syukuran atau acara penting Islam.

Alat musik ini identik dengan nyanyian-nyanyian Islam dan juga diiringi oleh penyanyi dengan alat musik lainnya seperti rebana, kendang, gong, sepakan dan lainnya untuk meningkatkan ritme lagu.

Bentuk dari alat musik tradisional Dambus sendiri agak lonjong dan memanjang, serta bagian kepala dari alat musik tradisional Dambus bentuknya seperti kepala rusa. Menurut Cak Mid itu karena nenek moyang masyarakat Bangka Belitung terdahulu sangat menyukai rusa.

Alat musik tradisional Dambus biasanya dimainkan secara berkelompok atau dapat dimainkan hanya dengan satu orang atau sering disebut dengan “surang” atau dalam bahasa Indonesia disebut sendiri. Biasanya para pemain musik tradisional ini menggunakan pakaian adat Bangka Belitung dengan seragam lengkap berupa sarung tangan dan topi. Musik tradisional Dambus dengan ciri irama dawainya yang nyaring berbeda-beda dibandingkan dengan musik lainnya.

Musik dambus dimainkan dengan lagu dan tarian khas melayu di Bangka Belitung yang disebut Dincak Dambus. Sebelumnya, musik dambus selalu menjadi andalan dalam berbagai kegiatan masyarakat dalam merayakan hari besar keagamaan Islam seperti hari lahir Nabi Muhammad SAW, perayaan Isra Mi’raj dan juga perayaan hari besar Islam lainnya, termasuk pernikahan, pesta adat istiadat dan masih banyak kegiatan lainnya.

Namun, sekarang dengan mengikuti perkembangan zaman hanya sebagian orang yang bisa menjadi pemain dan seniman alat musik tradisional Dambus ini. Kurangnya sumber daya manusia yang membuat minimnya penggiat alat musik tradisional Dambus.

Karena, tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi sebab generasi masyarakat Bangka Belitung lebih menikmati musik-musik kekinian dengan alat modern yang sedang berkembang dibandingkan mendengar dan memainkan alat musik tradisional.

Disamping itu, ada salah satu grup musik kontemporer yang dimiliki Bangka Belitung untuk mengangkat kembali kekayaan budaya dan mempertahankan konservasi alat musik tradisional Babel yaitu Official Cak Macak Ethnic Ensembel.

Sanggar Cikar Sinar Gemala atau biasa dikenal dengan Sanggar Cikar adalah salah satu sanggar kesenian yang paling aktif di Bangka Belitung. Cak Macak Ethnic Ensembel sendiri berada dibawah naungan Sanggar Cikar ini. Sanggar kesenian ini sudah terdata secara resmi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkal Pinang.

Sanggar Cikar terbentuk pada tahun 2010 kemudian salah satu anggota komunitas ini membuat komunitas sendiri didalamnya yang dikenal dengan Cak Macak. Cak Macak Ethnic Ensembel dibentuk pada tahun 2016 dan diresmikan secara administrasi pemerintahan pada tahun 2019.

Cak Macak sendiri diambil dari bahasa Bangka yang artinya “Sok Tau”. Ketika kita melakukan sesuatu yang jika tidak dimulai dari sesuatu hal yang salah, maka tidak akan pernah menjadi benar. Artinya cak macak ini sebelum seseorang mengetahui sesuatu, dia akan pura-pura mengetahui hal tersebut terlebih dahulu. “Cak macak itu sebelum dia tau, dia akan sok tau dulu” ucap Kevin Ramadani selaku ketua Dambus Group Cak Macak Ethnic Ensembel yang ditemui peneliti, Sabtu (04/11/2023).

Cak Macak Ethnic Ensembel dilatarbelakangi oleh anggota yang berbeda-beda. Beda dalam artian pendidikan dan kesehariannya. Beberapa dari mereka berasal dari sekolah khusus kesenian dan sebagiannya lagi memang penggiat seni. Meskipun dilatarbelakangi oleh perbedaan, setiap anggota diharuskan mempunyai mental.

Mental yang kuat, baik dalam belajar alat seni dan sebagainya. Sebelum membentuk Cak Macak, anggota-anggota Dambus Group ini berjuang membentuk sebuah band. Mereka berjuang mati-matian untuk berkembang di band tersebut, namun tidak membuahkan hasil yang maksimal, dalam artian Band tersebut hanya “jalan ditempat” tidak berkembang sama sekali.

Mengapa demikian? Karena untuk mengembangkan sebuah band itu tidak mudah, dan banyak proses yang harus dilalui. Salah satunya adalah harus punya produser, promotor, label rekaman, yang mana nanti akan dilirik para pemusik di kota besar. Berbeda dengan musik tradisional yang mereka geluti.

Musik dambus ini biasanya hanya dibawakan oleh anak-anak bangka, anak yang sedang belajar atau memang benar-benar menggeluti musik tradisional dambus ini. Menurut informan, jelas hal ini menjadi peluang besar untuk mengembangkan budaya berupa musik tradisional yang khas Bangka Belitung ini keseluruh dunia.

Musik dambus yang dimainkan komunitas dambus ini berupa gitar, gong dll, namun yang menjadi ikon utama alat asli dambus nya ini adalah gitar dambus. Gitar dambus ini banyak sekali macamnya, yang membedakannya dengan alat musik dambus lain adalah kepala dambusnya. Untuk kepala dambus khas Bangka Belitung sendiri berbentuk kepala rusa tapi yang kecil.

Menurut informan, menggeluti band musik tidak semembanggakan menggeluti musik tradisional musik dambus. Karena menggeluti musik band, termasuk musik yang biasa, maksud nya adalah ada banyak sekali grup band yang lebih bagus diluar sana. Berbanding terbalik dengan musik tradisional musik dambus.

Anggota Komunitas Cak Macak Ethnic Ansambel ini rata-rata sudah pernah memainkan musik dambus keluar kota hingga keluar negeri. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki oleh music tradisional dambus ini. Para anggota komunitas Cak Macak Ethnic Ansambel ini memiliki prinsip utama dengan berbahasa Bangka yakni “Kalau bukan ikak, siape agik? Kalau bukan kini, kapan agik?”.

Prinsip ini kemudian menjadi salah satu cara yang mereka lakukan untuk mempertahankan konservasi budaya Bangka Belitung melalui alat musik tradisional Dambus. Selain itu, Komunitas ini menarik perhatian anak muda untuk menyukai musik ini dengan cara mengkombinasi antara musik tradisional dengan musik modern, Contohnya musik koplo yang sedang naik-naiknya.

Dalam hal ini tentu menjadi peluang untuk komunitas Cak Macak Ethnic Ansambel dalam menaikkan musik tradisional ini dan tentunya mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan atau menghilangkan originalitas dari musik tradisional itu sendiri. Inilah salah satu alasan komunitas ini berjuang dan bertahan hingga saat ini, karena musik yang mereka geluti ini sangat unik dan banyak dikonsumsi khalayak bahkan masih digunakan oleh pemerintah.

Komunitas Cak Macak Ethnic Ansambel ini memiliki budget tersendiri untuk perform di berbagai acara formal. Namun, juga memiliki budget untuk acara sosial. Karena menurut penjelasan informan, komunitas ini terbentuk atas dasar sosial.

Baca juga: Hentikan Penambangan Ilegal di Laut dan Pantai Belinyu

Komunitas ini juga pernah di undang oleh para mahasiswa yang sedang KKN. Memang komunitas ini sangat erat dalam mempertahankan budaya Bangka. Sebab, jarang sekali kita menemukan orang usia 30 kebawah yang memainkan musik tradisional music dambus ini. Yang sering kita lihat adalah Bapak-bapak yang berusia 40 keatas, dan memainkan musik ini dengan irama kolot (kuno) yang sangat jarang diminati generasi saat ini.

Kesimpulan

Dambus merupakan salah satu bentuk kesenian unik khas masyarakat adat Bangka Belitung. Dambus adalah salah satu jenis alat musik yang digunakan dalam tarian dan lagu serta dinyanyikan oleh para pendahulu ketika mencapai disuatu desa-desa terpencil.

Namun, seiring perkembangan zaman sulitnya untuk mengembangkan alat musik tradisional ini karena sumber daya masyarakat yang kurang khususnya generasi muda. Kebanyakan mereka lebih tertarik mempelajari alat musik modern, drum, keyboard, gitar dan lainnya.

Official Cak Macak Ethnic Ansambel salah satu komunitas Bangka Belitung yang berada di bawah naungan Sanggar Cikar Sinar Gemala kemudian menjadi penggerak untuk mempertahankan konservasi alat musik tradisional Dambus ini.

Dengan berpegang pada prinsip “Kalau bukan ikak, siape agik? Kalau bukan kini, kapan agik?” menjadi dasar konservasi tersebut. Komunitas ini juga mengemas musiknya agar menarik dan dapat dikonsumsi khalayak dengan mengkombinasikan antara musik tradisional dan musik modern.

Merasa giat yang mereka geluti ini sangat unik, dengan itu Cak Macak Ethnic Ensembel beralasan untuk tetap mempertahankan konservasi alat musik tradisional dengan musiknya mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan originalitas dari musik tradisional itu sendiri.

Daftar Pustaka

Arif, E. (2018). Cak Macak Ethnic Ensemble Gaungkan Babel di Kancah Musik Etnik Nusantara. Pangkal Pinang: babelprov.

Keren, R. (2023). Dambus. Pangkal Pinang: Wonderfull Pangkalpinang.

Pranata, D. (2017). Kajian Organologi Dambus Buatan Zaroti Di Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 1-2.

Saput, I. (2016). Alat Musik Tradisional Dambus bangka, 5-7.

Tomi. (2020). Lewat Musik, Cak Macak Ethnic Ensemble Ingin Lestarikan Budaya Babel. Pangkal Pinang: Bangkapos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Konsultasi Gratis