PINTER HUKUM
#1 Platform for Legal Education and Consulting • Penyedia Layanan Jasa Hukum Terlengkap dan Terpercaya di Indonesia
Berita  

Dari Madrasah untuk Indonesia, Mahasiswa Alumni MAN-PK Satukan Langkah di Momentum Sumpah Pemuda

sumpah pemuda

SURABAYA – Semangat persatuan yang dahulu diikrarkan para pemuda pada 1928 kembali menemukan ruang aktualisasinya melalui pertemuan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia. Sebanyak 11 Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MAN-PK) yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Air menjadi bagian dari Silaturahmi Nasional dan Musyawarah Nasional Mahasiswa Alumni MAN-PK se-Indonesia di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, 28–29 Oktober 2026.

Pertemuan yang berlangsung di Amphiteater A. Yani UINSA tersebut mengusung tema “39 Tahun MAN-PK, Berkhidmat dan Berdampak”. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan mahasiswa lintas daerah untuk mempererat persaudaraan, membangun jejaring nasional, sekaligus merumuskan arah gerakan dan pengabdian generasi muda bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Keterlibatan delegasi dari berbagai wilayah menjadikan pertemuan ini sebagai momentum konsolidasi nasional. Mereka berasal dari Delegasi mahasiswa berasal dari seluruh jaringan MAN-PK di Indonesia, mulai dari MAN-PK Padang Panjang (Sumatera Barat), MAN-PK Batam (Kepulauan Riau), MAN-PK Ciamis (Jawa Barat), MAN-PK Yogyakarta (DI Yogyakarta), MAN-PK Solo (Jawa Tengah), MAN-PK Jombang dan MAN-PK Jember (Jawa Timur), MAN-PK Samarinda (Kalimantan Timur), MAN-PK Martapura (Kalimantan Selatan), MAN-PK Mataram (Nusa Tenggara Barat), hingga MAN-PK Makassar (Sulawesi Selatan).

Pertemuan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini menjadi pengingat bahwa persatuan dapat tumbuh melalui ikatan pendidikan dan tradisi keilmuan. Perbedaan daerah, lingkungan perguruan tinggi, dan pengalaman masing-masing delegasi dipertemukan dalam satu semangat, yakni berkhidmat dan memberikan dampak bagi Indonesia.

Baca Juga: Apa Saja Kemudahan dan Fasilitas yang Dapat Diperoleh Pelaku Usaha Mikro dan Usaha Kecil?

39 Tahun Perjalanan Pendidikan MAN-PK

MAN-PK memiliki akar sejarah dari gagasan pengembangan pendidikan Islam yang diprakarsai Menteri Agama Munawir Sjadzali pada dekade 1980-an. Program yang semula dikenal sebagai Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) tersebut mulai diselenggarakan pada 1987 sebagai upaya memperkuat pendidikan kader intelektual muslim melalui pendalaman ilmu-ilmu keislaman, penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta pembentukan wawasan keagamaan yang terbuka terhadap perkembangan zaman.

Pada masa awal penyelenggaraannya, program ini dikembangkan di sejumlah madrasah di Indonesia. Orientasi tafaqquh fiddin, yakni pendalaman ilmu agama, menjadi salah satu karakter penting pendidikannya. Tradisi tersebut diarahkan untuk melahirkan generasi yang memiliki penguasaan literatur keislaman sekaligus kesiapan mengambil peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Selama hampir empat dekade, perjalanan MAN-PK memperlihatkan luasnya ruang kontribusi pendidikan madrasah. Para alumninya kini berkiprah dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan tinggi, pemerintahan, pelayanan publik, kelembagaan keagamaan, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.

Peringatan 39 tahun ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali warisan intelektual tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan nilai-nilai pendidikan yang diperoleh selama di madrasah terus hidup melalui karya, pemikiran, dan pengabdian para alumninya.

Hadirkan Tokoh Nasional dari Berbagai Bidang

Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan penayangan kaleidoskop perjalanan 39 tahun MAN-PK dan silaturahmi nasional. Agenda kemudian dilanjutkan dengan gelar wicara yang menghadirkan sejumlah tokoh alumni dari berbagai bidang.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Ketua Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Mochammad Afifuddin, pimpinan BAZNAS RI Rizaludin Kurniawan, Rektor UINSA Prof. Masdar Hilmy, M.A., Ph.D., serta mantan Rektor UIN Surakarta Prof. Mudhofir Abdullah. Sejumlah akademisi dan tokoh keagamaan nasional turut menghadiri kegiatan tersebut.

Kehadiran para tokoh tersebut memperlihatkan beragam jalur pengabdian yang ditempuh alumni MAN-PK. Latar belakang pendidikan keagamaan menjadi salah satu bekal dalam menjalankan peran di tengah masyarakat, termasuk dalam bidang demokrasi, pendidikan, pelayanan publik, dan pengembangan kelembagaan.

Ketua Umum Ikatan Alumni Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Mataram dan Ketua Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), menekankan pentingnya menjaga nilai persaudaraan yang telah terbentuk sejak masa pendidikan.

“Saya amat senang dan bangga menjadi bagian dari MAPK. Nilai luhur dan kebersamaan yang diajarkan saat sekolah dulu masih terasa hangat sampai sekarang. Tepat di Hari Sumpah Pemuda ini, kita kuatkan tekad untuk berkhidmat pada agama dan bangsa,” ujar Masnun Tahir di Surabaya, Kamis (29/10/2026).

Pertemuan lintas generasi tersebut juga membuka ruang pertukaran pengalaman antara alumni yang telah berkiprah di tingkat nasional dengan mahasiswa yang sedang membangun kapasitas intelektual dan kepemimpinannya.

Baca Juga: Sinergi Inovasi dan Regulasi untuk Menavigasi Dimensi Hukum dalam Profesionalisme Product Consultant Samsung

Mahasiswa Alumni Rumuskan Arah Gerakan Nasional

Memasuki hari kedua, Kamis (29/10/2026), kegiatan difokuskan pada Musyawarah Nasional Mahasiswa Alumni MAN-PK. Forum ini diarahkan untuk membangun landasan kelembagaan yang dapat memperkuat koordinasi mahasiswa alumni dari berbagai perguruan tinggi dan daerah di Indonesia.

Sejumlah agenda dibahas, meliputi penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), perumusan rancangan pengembangan organisasi, pembentukan kepengurusan, serta pengesahan arah kelembagaan.

Pembahasan tersebut menjadi langkah penting dalam membangun keberlanjutan organisasi. Melalui struktur dan arah gerakan yang disepakati bersama, mahasiswa alumni diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan program pendidikan, penelitian, penguatan literasi, kepemimpinan, serta pengabdian sosial.

Konsolidasi ini juga membuka peluang bagi terbentuknya hubungan yang lebih terarah antara mahasiswa dan jaringan alumni senior. Pengalaman para tokoh dapat menjadi sumber pembelajaran, sementara generasi muda memiliki kesempatan membawa gagasan baru dalam menjawab persoalan masyarakat.

Dengan demikian, organisasi mahasiswa alumni diharapkan dapat menjadi penghubung antara tradisi keilmuan yang diwariskan madrasah dengan kebutuhan pengabdian pada masa sekarang.

Merawat Semangat Sumpah Pemuda, Menghidupkan Pengabdian

Penyelenggaraan kegiatan pada 28 Oktober memberikan dimensi kebangsaan tersendiri. Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 mengingatkan kembali sejarah persatuan pemuda Indonesia yang pada 1928 menyatukan tekad mengenai tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.

Hampir satu abad setelah ikrar tersebut, semangat persatuan kembali dihadirkan melalui perjumpaan mahasiswa dari berbagai wilayah. Sebelas MAN-PK yang tersebar dari Sumatera, Kepulauan Riau, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, hingga Sulawesi memperlihatkan bagaimana ikatan pendidikan dapat melampaui batas geografis.

Jika Sumpah Pemuda menjadi tonggak persatuan dalam sejarah perjuangan bangsa, pertemuan mahasiswa alumni MAN-PK menghadirkan ikhtiar untuk merawat persatuan melalui tradisi keilmuan, persaudaraan, dan pengabdian.

Di tengah perubahan zaman dan kompleksitas persoalan kebangsaan, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kedalaman ilmu berjalan beriringan dengan kepekaan sosial. Pendidikan agama memiliki ruang penting dalam membentuk integritas, tanggung jawab moral, dan kesadaran untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Melalui momentum 39 tahun MAN-PK, para alumni diharapkan terus merawat nilai-nilai yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka. Kebanggaan terhadap almamater pada akhirnya menemukan makna ketika pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Pertemuan nasional di UINSA Surabaya menjadi pengingat bahwa persaudaraan dapat menjadi fondasi gerakan bersama. Dari madrasah, generasi muda membawa bekal keilmuan; melalui persatuan, mereka membangun kekuatan; dan melalui pengabdian, mereka menerjemahkan nilai pendidikan menjadi manfaat bagi Indonesia.

Baca Juga: Tinjauan Hukum Adat dan Konflik Sosial: Kawin Lari (Silariang) di Sulawesi Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *