PINTER HUKUM
#1 Platform for Legal Education and Consulting • Penyedia Layanan Jasa Hukum Terlengkap dan Terpercaya di Indonesia

Hadis Takdir dan Jabariyah: Benarkah Manusia Tidak Memiliki Pilihan?

takdir

Pembahasan tentang takdir selalu menjadi salah satu tema penting dalam khazanah pemikiran Islam. Di satu sisi, umat Islam meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam ilmu dan kehendak Allah S.W.T. Namun di sisi lain, Islam juga mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya.

Persoalan ini menjadi perdebatan panjang dalam sejarah teologi Islam, terutama ketika muncul aliran Jabariyah yang menekankan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan memilih secara hakiki. Salah satu dalil yang sering dikaitkan dengan pandangan tersebut adalah hadis Nabi Muhammad S.A.W yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud tentang pencatatan takdir manusia sejak berada dalam kandungan.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلٰهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Artinya: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian diutuslah malaikat kepadanya lalu meniupkan ruh. Malaikat itu diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia. Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, seseorang dapat beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta, tetapi ketetapan telah mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu masuk ke dalamnya. Sebaliknya, seseorang dapat beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta, tetapi ketetapan telah mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan penghuni surga lalu masuk ke dalamnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Resensi Buku: Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia

Sekilas, hadis ini memang dapat dipahami sebagai gambaran bahwa kehidupan manusia telah berada dalam ketetapan Allah sejak awal penciptaannya. Karena itu, sebagian kelompok Jabariyah menjadikannya sebagai dasar untuk mengatakan bahwa manusia tidak memiliki pilihan yang sebenarnya. Manusia dianggap hanya menjalankan apa yang telah ditentukan tanpa memiliki kehendak yang mandiri.

Namun, apakah demikian pemahaman yang dikehendaki hadis tersebut?

Takdir Bukan Paksaan

Mayoritas ulama Ahlussunnah tidak memahami hadis ini sebagai penghapusan kehendak manusia. Mereka membedakan antara ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu dengan tindakan memaksa manusia untuk melakukan sesuatu.

Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup manusia, termasuk pilihan yang akan dilakukan, tetapi pengetahuan Allah tidak berarti bahwa manusia kehilangan kehendaknya. Manusia tetap memilih, berusaha, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Imam al-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa manusia tidak dihukum karena takdir yang tertulis baginya, tetapi karena amal yang benar-benar ia lakukan. Pencatatan takdir oleh malaikat merupakan bentuk ilmu Allah yang telah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi.

Hal serupa dijelaskan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fatḥ al-Bari. Menurutnya, ungkapan dalam hadis bahwa “ketetapan telah mendahuluinya” tidak berarti Allah memaksa seseorang melakukan keburukan atau kebaikan. Maksudnya adalah bahwa apa yang telah diketahui Allah sejak dahulu akan terjadi sesuai dengan kenyataan yang dijalani manusia.

Dengan demikian, ilmu Allah tidak menghilangkan ikhtiar manusia. Allah mengetahui pilihan manusia, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang menjalankan pilihan tersebut.

Membaca Hadis Secara Utuh

Salah satu persoalan dalam memahami hadis tentang takdir adalah kecenderungan mengambil satu bagian teks lalu mengabaikan keseluruhan ajaran Islam. Padahal, banyak hadis lain menunjukkan bahwa manusia tetap diperintahkan untuk berusaha.

Ketika para sahabat bertanya mengenai takdir, Rasulullah S.A.W tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Beliau justru bersabda:

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya.”

Pesan ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir tidak boleh berubah menjadi sikap pasif. Seorang Muslim tetap harus bekerja, belajar, memperbaiki diri, dan melakukan kebaikan. Adapun hasil akhir adalah wilayah kehendak Allah.

Takdir bukan alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, takdir mengajarkan manusia agar tidak sombong ketika berhasil dan tidak berputus asa ketika mengalami kegagalan.

Baca Juga: Hukum Islam: Pengertian, Sumber, Sifat, Tujuan, dan Asas

Relevansi di Tengah Kehidupan Modern

Pemahaman yang mendekati pola pikir Jabariyah masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang seseorang menggunakan alasan takdir untuk membenarkan kemalasan atau menghindari tanggung jawab.

Padahal, Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. al-Ra’d:11).

Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan usaha manusia. Kehendak Allah tidak menjadikan manusia pasif, tetapi mengarahkan manusia untuk bergerak dalam batas kemampuan yang diberikan kepadanya.

Karena itu, memahami takdir secara tepat sangat penting. Kesalahan memahami takdir dapat melahirkan sikap menyerah terhadap keadaan, sementara pemahaman yang benar justru melahirkan optimisme, tanggung jawab, dan keteguhan dalam berusaha.

Penutup

Hadis Abdullah bin Mas’ud tentang pencatatan takdir merupakan hadis penting dalam pembahasan akidah Islam. Namun, hadis tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak memiliki pilihan.

Islam mengajarkan keseimbangan antara keyakinan kepada kehendak Allah dan tanggung jawab manusia. Manusia bukan makhluk yang bebas tanpa batas, tetapi juga bukan makhluk yang tidak memiliki kehendak.

Takdir mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan ikhtiar mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab. Keduanya berjalan bersama dalam kehidupan seorang Muslim: berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah S.W.T.

Baca Juga: Hukum Islam: Mengenali Rukun Iman dan Rukun Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *